Soal Pelajar Tuna Daksa yang Sempat Diminta Keluar dari Sekolah, Ini Kata Disdikbud Bondowoso

Home / Pendidikan / Soal Pelajar Tuna Daksa yang Sempat Diminta Keluar dari Sekolah, Ini Kata Disdikbud Bondowoso
Soal Pelajar Tuna Daksa yang Sempat Diminta Keluar dari Sekolah, Ini Kata Disdikbud Bondowoso Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso Haeriyah Yuliati (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

TIMESKEDIRI, BONDOWOSO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Disdikbud Bondowoso akhirnya angkat bicara, soal kasus Muhammad Hendra Afriyanto, pelajar tuna daksa yang sempat diminta mundur oleh pihak sekolah SMP Negeri 2 Tamanan.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, Haeriyah Yuliati mengatakan, bahwa permasalahan tersebut karena miss komunikasi antara pihak sekolah dan wali murid. 

"Pihak sekolah tidak pernah merasa mengeluarkan, siswa yang bernama Hendra dari SMP N 2 Tamanan. Alhamdulillah itu sudah diluruskan, kami sudah perintahkan pihak sekolah, kepala sekolah, dan unsur guru untuk meluruskan ini kepada wali murid," katanya saat dikonfirmasi. 

Menurutnya, pihak sekolah memang memanggil orang tua Hendra. Namun untuk berkomunikasi, terkait peran serta orang tua untuk ikut bersama-sama membantu pihak sekolah, dalam pembelajaran siswanya. 

Apalagi kata dia, siswa ABK (anak berkebutuhan khusus) dalam hal  ini Hendra, memang perlu pendampingan khusus orang tua dalam pembelajarannya. 

"Kenapa kami katakan bahwa tidak ada penolakan, karena selama beberapa waktu sejak masa pendidikan. Itu sudah dilakukan pendidikan luring ke rumah anak tersebut. Jadi ada kunjungan ke rumah siswa itu oleh guru," jelasnya, Kamis (6/8/2020). 

Namun dari kejadian ini, Haeriyah mengingatkan semua tenaga pendidik di lembaga pendidikan yang menangani pendidikan inklusi, untuk lebih bijak dalam menyampaikan pesan-pesan kepada wali murid. Agar tak terjadi kesalahpahaman. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, orang tua Muhammad Hendra Afriyanto mengaku, bahwa anaknya diminta mundur karena keterbatasan fisiknya, yang tak bisa menulis. Akibat peristiwa tersebut, bocah polos ini menangis tersedu dan masih trauma.

Bahkan orang tua Hendra juga sempat mengembalikan buku pelajaran ke SMP Negeri 2 Tamanan. Namun kemudian pihak sekolah mendatangi lagi rumah pelajar tuna daksa tersebut, untuk menyampaikan permohonan maaf dan meminta Hendra untuk bersekolah lagi. (*) 

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com