Membiasakan Membaca Bersama Anak di Tengah Pandemi

Home / Kopi TIMES / Membiasakan Membaca Bersama Anak di Tengah Pandemi
Membiasakan Membaca Bersama Anak di Tengah Pandemi Wildan Pradistya Putra, Pendidik di Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) Malang, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan.

TIMESKEDIRI, MALANG – Virus Covid-19 yang mulai mewabah di Indonesia sejak awal Maret membuat pemerintah memberlakukan kebijakan Physical Distance. Kebijakan tersebut juga berimbas pada dunia pendidikan. Melalui surat Pemerintah Daerah (Pemda) menerapkan kebijakan pembelajaran di rumah sekolah-sekolah yang daerahnya terdampak virus ini. Peraturan ini dikeluarkan untuk menekan penyebaran virus covid-19.

Momen belajar di rumah seperti saat ini dapat dimanfaatkan orang tua untuk melakukan aktivitas membaca dengan anak. Seperti kita ketahui bersama hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-74 dari 79 negara. 

Indonesia menempati peringkat keenam terbawah. PISA sendiri merupakan program yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali yang diinisiasi oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk mengukur kompetensi belajar peserta didik. Subjek penelitian PISA merupakan remaja 15 tahun dari negara-negara yang tergabung dengan OECD.

Penilaian PISA diambil dari tiga kategori, yaitu Sains, Matematika, dan Membaca. Dari tiga kategori tersebut, Indonesia memperoleh nilai tertinggi dengan skor 396 pada kategori Sains. Nilai kedua Indonesia ada pada kategori Matematika dengan skor 379. Kategori Membaca sendiri memperoleh skor terendah, yaitu 371. 

Ketiga skor yang didapat Indonesia itu masing jauh dari rata-rata skor OECD sebesar 489. Skor pada Ketegori Membaca menjadi skor yang terendah. Bahkan skor Membaca pada PISA 2018 paling rendah dari tiga kali penyelenggaran survei sebelumnya, yaitu skor 402 pada tahun 2009, 396 pada tahun 2012, dan 397 pada tahun 2015.

Tidak harus membeli buku baru untuk mengajak anak membaca, bisa dengan buku-buku yang sudah ada. Bisa juga membeli e-book yang dengan mudah kita dapatkan di internet. Bahkan ada e-book yang dapat diperoleh dengan gratis, seperti buku.kemdikbud.go.id, openlibrary.org, openlibrary.org, dan bookboon.com.

Pembelajaran di rumah pada situasi seperti sekarang ini membuat anak memiliki banyak waktu untuk membaca buku. Hal ini juga dapat memecah ketergatungan dengan gawai (smartphone) yang begitu akrab dan inten dipegang oleh anak ketika di rumah. Pertanyaannya kenapa kegiatan membaca teramat penting?

Ada empat keterampilan yang harus dikuasai siswa di Abad 21 ini yang lebih dikenal dengan istilah 4C, yaitu Collaboration (Kolaborasi), Communication (Komunikasi), Critical Thinking (Berpikir Kritis), dan Creativity (Kreativitas). Kemampuan membaca sendiri merupakan penunjang keterampilan Abad 21 pada Critical Thinking dan Creativity. Kenapa demikian? 

Kaitan berpikir kritis, karena dengan kemampuan membaca yang mumpuni seorang dapat menemukan sebab-akibat dan solusi suatu bacaan dan menerapkan pada kehidupan yang sesungguhnya. Berbeda dengan Kreativitas, seseorang baru bisa menulis atau mengkreasikan sebuah tulisan jika orang itu rajin membaca. Menulis berkaitan erat dengan kreativitas. 

Di tengah-tengah situasi ini ketergantungan anak pada media sosial harus sedikit dikurangi. Menurut data yang dipublikasikan wearesocial, perusahaan asal Inggris, pada Januari 2019 lalu, terungkap bahwa 150 juta penduduk Indonesia telah menggunakan media sosial. Artinya ada 56 persen dari total penduduk 268,2 juta. Dari total pengguna medsos itu, Youtube menjadi platform yang paling banyak diakses oleh pengguna medsos di Indonesia dengan 88%, diikuti WhatsApp 83%, Facebook 81%, dan Line 59%. Dengan membaca sedikit demi sedikit akan mengurangi kegiatan anak di media sosial.

Kita sebagai orang tua dapat mendukung kegiatan membaca anak. Menyiapkan waktu khusus bersama anak di rumah untuk membaca bisa menjadi salah satunya. Dulu bagi sebagian orang tua banyak yang merasa kekurangan waktu dengan anak karena sibuk bekerja. Dengan kondisi ini orang tua dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dengan membaca dan bertukar pikiran dapat meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini juga dapat menetralkan pengaruh hoax (informasi yang tidak benar) yang mereka dapatkan dari media sosial. Dengan membaca buku cetak maupun digital, anak juga akan terbiasa mencari informasi dengan sumber yang valid. 

Kebiasaan-kebiasaan literasi juga perlu mendapatkan dukungan dari seluruh anggota keluarga. Semisal orang tua yang mewajibkan satu keluarga untuk membaca di jam-jam tertentu, seperti pukul 19.00-20.00. Tidak perlu lama-lama untuk membiasakan hal ini, cukup 1 jam saja. Namun, keberhasilan kebiasaan literasi di rumah ini memerlukan peran dari seluruh anggota keluarga. Bila salah satu orang enggan melakukan kegiatan ini, maka dapat memengaruhi anggota keluarga lain. 

Di tengah-tengah situasi pendemi ini kegiatan membaca menjadi alternatif yang menarik yang dapat dilakukan di keluarga, bersama anak. Dengan membiasakannya membaca sekarang semoga anak akan terus menyukai aktivitas membaca sampai seterusnya meskipun pembelajaran di sekolah sudah aktif lagi. 

***

*)Oleh: Wildan Pradistya Putra, Pendidik di Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) Malang, Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com