Tan Malaka Tokoh Kontroversial dalam Sejarah Indonesia Modern

Home / Kopi TIMES / Tan Malaka Tokoh Kontroversial dalam Sejarah Indonesia Modern
Tan Malaka Tokoh Kontroversial dalam Sejarah Indonesia Modern Harjoko Sangganagara, Politisi & Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung.

TIMESKEDIRI, LAMPUNG – "Terbentur. Terbentur. Terbentur. Terbentuk" (Tan Malaka). Tanggal 21 Februari 2020 adalah Haul ke -71 Tan Malaka. Tan Malaka lahir di Pandan Gading, Sumatra Barat dengan nama lengkap Ibrahim Datuk Sutan Malaka. Ia masuk sekolah dasar di Suliki pada tahun 1902 lalu melanjutkan ke sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock (dekat Bukit Tinggi). 

Oleh seorang pengajar yang bernama G.H. Horensma, Malaka didesak untuk melanjutkan pendidikan di negeri Belanda. Pada tahun 1912 ia berangkat ke Belanda bersama keluarga Horensma. Keluarga inilah yang mendukung Tan Malaka untuk bersekolah di sekolah guru Haarlem, baik secara moral maupun material.

Saat bersekolah di Belanda, Tan menonjol dalam mata pelajaran ilmu pasti, sehingga dipuji oleh gurunya, yang menyangka orang Indonesia tidak mampu memahami ilmu pasti. Tan juga mengagumi disiplin organisasi kemiliteran Jerman dan mencurahkan perhatian besar pada hal tersebut. Tidak mengherankan jika Tan membaca banyak buku kemiliteran.

Revolusi Rusia tahun 1917 menambah minat Tan pada buah pikiran Marx dan Engels. Ia pun kerap mengikuti berbagai diskusi politik kaum kiri di Amsterdam, termasuk diskusi terbuka antara Sneevliet dan Ki Hadjar Dewantara tentang "Kecenderungan Nasionalis dan Sosialis dalam Pergerakan Nasional Hindia" di Amsterdam pada tahun 1919. Saat itu Tan belum menampilkan diri sebagai komunis meski ada yang mengatakan ia telah menjadi seorang komunis. Banyak juga yang meragukan kekomunisannya.

Pada November 1919 Tan kembali ke Indonesia. Meski begitu Tan tetap berkorespondensi dengan rekan-rekannya di Belanda. Sejak 1920 ia menulis banyak artikel. Het Vrije Woord (Kata Yang Bebas) dimuat surat kabar kaum Bolsheviks di Semarang. Sovyet atau Parlemen, artikel tentang bentuk pemerintahan, di majalah Soeara Ra'jat.

Ketika ISDV (Perserikatan Sosial Demokrat Hindia Belanda) ingin berganti nama di tahun 1919, ia mengusulkan nama Partai Nasional Revolusioner Indonesia sebagai pengganti. Usulnya ditolak Semaun yang tetap menginginkan nama ICP ( Partai Komunis Hindia) sebagai nama pengganti ISDV.

Pada tahun 1921 Tan terpilih sebagai ketua ICP ( PKI) dan menjadi tokoh terpenting partai ini sejak kepergian Semaun ke Rusia. Ia mengembangkan cabang PKI di daerah dan mengecam pemerintahan kolonial yang menindas para buruh. Ia ditangkap karena terlibat dalam aksi pemogokan para buruh pegadaian (dan perkebunan ?) tahun 1922. 

Tan lalu mengajukan diri untuk mengasingkan diri ke Belanda. Tidak lama di Belanda ia pergi ke Moskwa. Pada tahun 1924 ia mendapat tugas dari Komintern (Komunis Internasional) untuk menulis buku mengenai Indonesia. Hasilnya adalah buku berjudul "Indonezija: ejo mesto na proboezjdajoesjtjemsja Vostoke" ( Indonesia dan tempatnya di Timur yang Sedang Bangkit).

Awal 1925, Tan berada di Cina. Ia menulis buku kecil berbahasa Belanda berjudul Naar de Republiek Indonesia, yang dicetak di Kanton. Ia mengajak kaum cendikiawan Indonesia untuk berjuang meraih kemerdekaan dan peka terhadap hati nurani rakyat. Ia juga menyajikan pemikirannya mengenai program politik, ekonomi, sosial dan kemiliteran yang diperlukan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Tahun 1926 Tan menerbitkan buku berjudul Massa Actie yang merupakan dasar sanggahannya atas keputusan rapat PKI di Prambanan pada tahun 1925. Karena buku itu ia dinilai sebagai pengikut Trotski yang menyimpang dari ajaran komunis. Ia dipecat sebagai Ketua Komintern Asia. Ia pun keluar dari PKI dan mendirikan PARI (Partai Rakyat Indonesia), saat dalam pengembaraan dan penyamaran di Indochina.

Antara tahun 1942 dan 1943 Tan menulis buku Madilog ( Materialisme Dialektika Logika), yang menyuguhkan cara berpikir baru untuk memerangi cara berpikir lama (dipengaruhi tahayul atau mistik yang menyebabkan orang menyerah secara total kepada alam). Pemikiran dialektisnya terlihat dari sikapnya yang mempertentangkan golongan tua (Sukarno-Hata) dengan golongan muda (pemuda pejuang). Ia sinis terhadap golongan tua yang mau bekerja sama dengan penjajah, sekaligus menaruh harapan kepada golongan muda sebagai ujung tombak perjuangan.

Pada Maret 1946 Tan Malaka ditangkap dengan tuduhan menggerakkan rakyat menentang Persetujuan Linggarjati antara Belanda dan Indonesia yang dilakukan oleh Kabinet Sjahrir. Surat penangkapannya tidak ditandatangani oleh Presiden Sukarno, sehingga diduga itu merupakan gagasan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. 

Sewaktu Tan dalam tahanan, terjadi penculikan atas Sutan Sjahrir oleh perwira muda militer bernama Abdul Kadir Yusuf yang bersimpati terhadap Tan. Tan sendiri tidak tahu apa-apa tentang peristiwa ini.

Pada 3 Juli 1946, terjadi percobaan kudeta yang pertama terhadap pemerintahan. Tan Malaka dituduh terlibat. Tetapi pengadilan menyatakan ia tidak bersalah. Ia pun dibebaskan. Setelah Peristiwa Madiun, Tan membentuk Partai Murba. Ia pun ikut bergerilya. Pada 19 Februari 1949 ia tewas ditembak TNI dari Batalion Sikatan di wilayah Kediri, Jawa Timur. Saat itu Tan sedang mempraktikkan gerilya rakyat sesuai gagasannya dalam Gerpolek. 

Sampai tahun 2000-an kuburnya tidak diketahui. Ada delapan versi kematian Tan, versi terbanyak beliau dibunuh di tepi Sungai Brantas. Ternyata ia dibunuh di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. 

Kehidupannya yang sungguh menarik dapat diikuti lewat otobiografinya yang berjudul Dari Penjara ke Penjara dan juga buku-bukunya yang lain, misalnya Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi). 

Bagi tokoh perjuangan kala itu pun ia tetap dianggap misterius dan hanya dikenal lewat banyak dari tulisannya. The Tribune, surat kabar Filipina mensejajarkan perjuangannya dengan Jose Rizal, pahlawan negara itu. Sementara Philipines Free Press menolak penghargaan itu karena Tan sering menggunakan nama samaran, sedangkan Jose tidak. Penulis dan tokoh pergerakan Indonesia, Muhammad Yamin, menilai Tan Malaka sebagai Bapak RI melalui buku yang ditulisnya, Tan Malaka Bapak Republik Indonesia. (Purwoko, ENI Vol. 10, 2004:69; Tempo dan sumber sumber lain).

Atas prakarsa dan biaya Poeze, peneliti dan penulis Belanda yang bersimpati pada Tan Malaka,  kemudian dilakukan pembongkaran sebuah makam tak dikenal di Desa Selopanggung, Kecamaatan Semen, Kabupaten Kediri, pada tanggal 12 September 2009 yang lalu dan dilakukan tes DNA. Tim dokter dari Departement of Forensik Medicine & Medicalegal Faculty of Medicine University of Indonesia, kemudian memastikan bahwa itu memang makam Tan Malaka.

Beberapa tahun kemudian jenazah hendak dipindah ke Sumatra Barat, namun masyarakat setempat berkeberatan. Akhirnya hanya sebagian tanah makam tersebut dibawa ke Kabupaten Limapuluh Koto, Sumatra Barat. Kini ada dua makam Tan Malaka. Di Jawa Timur dan Sumatra Barat (Tempo dan wawancara pribadi dengan Prof. Nina Lubis). (*)

***

*)Penulis: Harjoko Sangganagara,  Politisi & Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com